Hasil Investigasi KSPPM: Perambahan Hutan Lindung di Balik Banjir Bandang Humbang Hasundutan

sumut.jpnn.com, HUMBAHAS - Banjir bandang dan longsor menerjang permukiman warga di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, pada Jumat (1/12) malam. Bencana ekologis ini menyisakan duka mendalam, puluhan rumah rusak, ratusan warga terpaksa mengungsi dan 12 orang hilang.
Tim SAR gabungan masih berjibaku untuk mencari 10 korban yang belum ditemukan. Sementara dua korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Lantas, benarkah banjir bandang dan longsor ini hanya bencana alam biasa?
Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) menyebut banjir bandang dan longsor yang menerjang permukiman warga disebabkan oleh kerusakan ekosistem hutan.
Direktur KSPPM Delima Silalahi mengatakan berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan pihaknya mengungkap beberapa fakta terkait penyebab bencana banjir bandang dan longsor di Desa Simangulampe.
“Ini merupakan banjir bandang terparah yang dialami masyarakat. Hingga saat ini ada dua korban jiwa dan 10 lainnya masih hilang,” kata Delima Silalahi dalam keterangan tertulis yang diterima,Selasa (5/12).
Delima menyebut dari hasil investigasi yang dilakukan pascabanjir bandang, pihaknya merangkum beberapa faktor yang menjadi penyebab bencana tersebut.
Deforestasi dan Rusaknya Resapan Air di Hulu
KSPPM menyebut bencana banjir bandang di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) disebabkan perambahan hutan lindung
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Sumut di Google News