Hasil Investigasi KSPPM: Perambahan Hutan Lindung di Balik Banjir Bandang Humbang Hasundutan

Delima mengatakan salah satu penyebab banjir bandang di Desa Simangulampe adalah meluapnya sungai atau aek Sibuni-buni. Sungai ini sempit dan debit airnya juga kecil, sehingga masyarakat tidak menduga air sungai bisa meluap, karena selama ini berfungsi untuk mengairi sawah.
KSPPM menelusuri hulu dari Aek Sibuni-buni menggunakan drone, yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Dolok Sibuni-buni.
“Hulu dari sungai ini berada di Desa Sitolu Bahal, Kecamatan Lintong Nihuta, yang juga disebut masyarakat di Bakti Raja denga wilayah Parhomangan,” kata Delima.
Dia mengatakan dari hasil pengamatan, kondisi hulu sungai sangat memprihatinkan dan terdapat aktivitas penebangan hutan di atas. Terdapat hamparan tanaman monokultur Eukaliptus seluas 15,6 hektare yang baru dipanen.
Delima menyebut dari video yang mereka rekam melalui drone, masih terlihat beberapa log-log (potongan) kayu Eukaliptus yang tidak diangkut.
“Di beberapa titik banjir yang terjadi di Simangulampe juga ditemukan banyak potongan kayu Eukaliptus terbawa air dan lumpur,” jelas Delima.
KSPPM juga menemukan fakta bahwa dalam proses panen kayu Eukaliptus, para pembalak membuka jalan dengan merusak aliran anak sungai. Beberapa anak sungai yang ada di sekitar areal lahan Eukaliptus tertutup dengan log-log kayu hasil penebangan.
Alih Fungsi Hutan Lindung
KSPPM menyebut bencana banjir bandang di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) disebabkan perambahan hutan lindung
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Sumut di Google News