Gubernur Edy Rahmayadi di Hadapan Presiden Jokowi Pamer Pers Tertua dari Sumut
“Dan hari ini apabila semua insan pers berkumpul di sini, maka tugas kita saat ini adalah untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan,” sebut Edy Rahmayadi.
Baca Juga:
Menurutnya, ada satu teori yang menyatakan bahwa kenyataan dapat dibentuk, bahwa suatu versi kebenaran dapat dikontruksi secara maya.
Awalnya dirinya meragukan teori tersebut, namun hari ini teori itu ada benarnya. Bahwa kenyataan dapat dibentuk dan kebenaran dapat dikonstruksi oleh media.
"Inilah kekuatan luar biasa media masa kini. Sehingga zaman ini disebut sebagai zaman post truth atau matinya kebenaran. Kebohongan menjadi kebenaran apabila diproduksi terus menerus," ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, kebebasan pers yang harus dimaknai adalah bagaimana kebebasan sebagai nilai yang baik dan berguna di dalam etika yang bertanggung jawab. Dalam kode etik jurnalistik disampaikan bahwa “wartawan Indonesia dalam menghasilkan berita harus akurat, berimbang, dan tidak beretikad buruk dan harus sesuai dengan hati nurani”.
Ini berarti tugas pemberitaan untuk melayani kemanusiaan dan hati nurani.
“Kami berharap peran penting dari pers adalah bagaimana pers dapat memperkuat penggunaan nalar publik yang menuju pada kebaikan yang sifatnya universal dan menghargai kemanusiaan. Maka ukuran tertinggi dari profesi jurnalistik pada akhirnya adalah sejauh mana pers bertanggung jawab pada upaya-upaya pembangunan kemanusian," pungkasnya.(mar8/jpnn)
Gubernur Edy Rahmayadi pamer kepada Presiden RI Jokowi bahwa pers tertua dari Sumatera Utara
Redaktur & Reporter : Muhlis
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Sumut di Google News